Menyebut buntil, barangkali
terasa aneh bagi sebagian masyarakat kota .
Apalagi mereka yang belum pernah menikmatinya. Sejatinya, buntil sebagai lauk
yang biasa dijajakan di pasar tradisional, memiliki rasa yang pas untuk
menemani nasi.
Sebagian masyarakat kota , ada yang menyebut
buntil mirip dengan bothok yang dibungkus dengan daun muda singkong dan diberi
sedikit cairan kuah pedas yang terbuat dari santan. Isinya adalah parutan
kelapa yang diberi bumbu. Daun pembungkus yang lain yang sering digunakan
adalah daun talas atau daun sente. Berbeda dengan bothok, daun pembungkus pada
buntil juga dapat turut dikonsumsi. Bothok biasanya dibungkus menggunakan daun
pisang.
Adalah hal yang sangat istimewa
ketika banyak orang memburu buntil. Di sebuah pasar tradisional di Kecamatan
Kutasari, hampir setiap hari orang mencari buntil khas Kutasari. Sebenarnya, buntil
itu dibuat oleh seorang warga Dukuh Carangmanggang, Desa Karangbanjar, kecamatan
Bojongsari, bernama Ny Kasmini. Hanya saja, Kasmini yang sudah menjajakan
buntil 44 tahun lalu, lebih sering berjualan di Kutasari. Akhirnya, buntil itu
cenderung disebut sebagai buntil Kutasari.



